Pemirsa Blog Yth.,

Design kandang koloni untuk kambing etawa biasanya memiliki ukuran panjang ke samping lebih dari 2m serta lebar ke belakang  >1,75. Tujuannya adalah agar jumlah ternak yang masuk dalam kandang tersebut jumlahnya lebih banyak , di sisi lainnya kandang koloni dinilai lebih ekonomis karena dapat menghemat material yang digunakan dalam proses pembuatan kandang.

Kami sebelumnya memiliki 10 lokal kandang koloni dengan ukuran masing-masing 3m x 1.75m, kandang ini dapat menampung 7 ekor kambing induk etawa untuk setiap lokalnya. Dengan demikian secara keseluruhan dapat menampung 70 ekor.

Pertanyaannya adalah, apakah design kandang koloni tersebut cocok untuk induk kambing etawa? Mari kita lihat beberapa uraian dari pengalaman kami sbb:

  1. Induk kambing etawa cenderung suka bertarung apabila baru saja dipertemukan dalam satu tempat atau satu kandang.
  2. Akibat pertarungan tersebut beberapa induk menjadi dominan dan ada juga induk yang menjadi pecundang. Hal ini akan terus berlanjut dengan kondisi terburuk yaitu pada saat pemberian pakan, induk dominan akan menguasai tempat pakan dan mengejar-ngejar induk pecundang. Sesekali terlihat terjadi tandukan di daerah kepala, badan maupun perut. Kondisi ini akan semakin sulit dikontrol apabila jumlah ternak dalam satu kandang berjumlah lebih dari 5 ekor.
  3. Beberapa dampak akan timbul akibat kondisi yang terjadi pada point 2 sebagai berikut: terjadi patah tanduk dan luka, induk-induk yang kalah tidak akan berani mendekati tempat pakan sehingga menjadi kurus dan sakit,  bisa terjadi luka dalam  akibat tandukan di daerah badan atau perut, tandukan di daerah perut ini berbahaya bagi si induk itu sendiri dan atau janin yang ada di dalamnya apabila induk yang dikolonikan tersebut dalam keadaan bunting.
  4. Luka dalam akibat benturan pada induk bunting ini sangat berbahaya, mengingat kualitas cempe yang akan dilahirkan sangat tergantung dari kondisi indukan, perawatan pada masa hamil dan jumlah serta kualitas asupan pakan yang diberikan.
  5. Lebih lanjut akibat luka dalam ini, kami mengalami 4 kelahiran induk dengan jumlah 7 ekor cempe lemah dan mati saat dilahirkan, 2 induk mengalami keguguran dan 1 ekor induk mati karena sakit.
  6. Beberapa cara sudah dilakukan untuk mencegah hal ini spt : mengikat induk yang dominan galak, namun tidak cukup efektif karena jumlah indukan dalam satu kandang berjumlah lebih dari 5 ekor, karena masih ada induk dominan lainnya. Alternative lainnya dengan memasukan pejantan ke dalam kandang koloni juga tidak memberikan hasil yang optimal.

 

Hal-hal tersebut di atas jelas mengganggu kelancaran dalam beternak dan kerugian akan semakin bertambah apabila tidak segera ditanggulangi. Mengingat kematian induk atau cempe, merupakan resiko yang relative besar dalam beternak kambing etawa. Begitu pula bagi peternak kambing perah, apabila terjadi keguguran susu yang diharapkan dari si induk tidak akan optimal.

Lalu seperti apakah solusi yang kami lakukan untuk menanggulangi permasalahan tersebut? Berikut adalah langkah-langkah yang kami lakukan:

  1. Mengkolonikan induk kambing etawa memerlukan waktu, akan berhasil dengan baik apabila proses mengkolonikan dimulai dari usia dini atau cempe lepas sapih.
  2. Kelompokkan induk-induk dengan umur realif sama misalanya laktasi 1, 2 dan sterusnya.
  3. Jumlah indukan dalam satu kandang tidak lebih dari dua ekor, apabila masih terjadi pertarungan, ikatlah induk yang galak tersebut dengan panjang tali  hanya cukup untuk  menjangkau tempat pakan dan bisa tidur. Setelah beberapa waktu kedua indukan dalam satu kandang ini akan akur dan tali pengikat bisa dilepas.
  4. Hindari mengkolonikan induk-induk yang sedang dalam kondisi bunting.
  5. Kami melakukan renovasi kembali kandang koloni menjadi kandang individual maksimal diisi  2 ekor induk perkandang dengan ukuran ke samping 1,5 m dan lebar ke belakang 1.75m.

Alhamdulillah, kini resiko kematian cempe dan induk akibat benturan dan perkelahian tidak terjadi lagi.

Demikian sharing dari kami perihal mengkolonikan induk kambing etawa, semoga bermanfaat. Salam, Exotics Farm Indonesia.