Pemirsa blog yang terhormat, popularitas kambing PE tak diragukan lagi memang benar-benar sedang berada di puncaknya. Dua hal mendasar yang membuat popularitasnya cepat meroket yaitu : pertama boomingnya penjualan “Susu Kambing Etawa” yang memiliki segudang kelebihan dan manfaatnya, sedangkan yang kedua adalah maraknya penyelenggaraan kontes “Kambing Etawa” di berbagai daerah terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang membuat harga Kambing Etawa Unggulan melambung tinggi hingga menembus angka ratusan juta rupiah. Dilihat dari sisi ekonomi kedua factor tersebut memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan baik bagi pelaku usaha maupun new hobbies.

Maraknya penyelenggaraan kontes di berbagai daerah, seakan menegaskan bahwa Kambing Etawa ini merupakan icon hobby baru yang peminatnya semakin hari semakin bertambah dan terus bertambah. Namun demikian pada setiap event kontes tak jarang menyisakan protes dan kontroversi dari peserta terhadap penyelenggara sebagai akibat dari hasil penilaian tidak sesuai dengan yang diharapkan atau penyelenggara dan juri yang ditenggarai berpihak kepada salah satu peserta kontes. Polemik ini terjadi selama 4 tahun berjalan, yakni seumur dengan kontes kambing etawa yang diselenggarakan secara terbuka sejak tahun 2007.

Menurut pengamatan penulis, beberapa masalah yang selalu terjadi pada event kontes kambing etawa dikarenakan :

  1. Belum adanya standar baku terhadap kriteria penilaian yang disepakati oleh berbagai pihak.
  2. Belum tersedianya aturan baku yang mengatur tata laksana dan tanggung jawab perangkat pelaku kontes yang terlibat. Seperti Inspektur Kontes, Dewan Juri, Juri, Koordinator Lapangan, Tim Rekap , Administrasi Lomba, Peralatan Lomba dan Standard Lokasi Lomba.
  3. Belum adanya wadah/organisasi resmi dengan skala regional/nasional yang menaungi dan bertanggung jawab atas kegiatan tersebut.

Disisi lain penulis melihat bahwa Kontes Kambing Etawa ini merupakan aset budaya baru yang harus dilestarikan dan dipertahankan, bahkan bisa diusulkan untuk menjadi aset budaya Nasional yang akan menarik perhatian baik wisatawan domestik maupun internasional apabila menjadi bagian dari agenda pariwisata di berbagai daerah di Tanah Air yang kita cintai ini.

Banyak dampak negative yang akan ditimbulkan apabila permasalahan tersebut di atas tidak segera diatasi. Misalnya perasaan kecewa dari para new hobbies yang membuatnya mundur dari arena kontes, hilangnya keinginan untuk mengikuti kontes dari para pemilik kambing etawa unggul, yang pada akhirnya akan berujung pada menurunnya popularitas kambing etawa. Tentu saja kita tidak ingin melihat redupnya popularitas Ikan Louhan, Ayam Serama, atau Bunga Aglounema dan Anthurium akan terjadi pula di Kambing Etawa ini.

Berawal dari keprihatinan atas pemasalahan tersebut, pada medio 2009 penulis melakukan beberapa diskusi ringan dengan Mas Arief (Kandang Bambu) dan mas Wahid (Kambing Online), tentang bagaimana melestarikan dan memelihara popularitas kambing PE dengan kontesnya. Bak gayung bersambut akhirnya teman-teman hobbies dan peternak kambing PE di Jawa Timur melalui serangkaian kegiatan persiapan dan melakukan loby sana sini, berhasil menyelenggarakan acara Saresehan dan Standardisasi Kontes Kambing Etawa pada tanggal 9 Oktober 2010 sebagai wujud kepedulian dan upaya penyelesaian polemik seputar kontes kambing etawa. Acara ini selain mayoritas pesertanya berasal dari Jawa Timur, juga di hadiri oleh teman-teman dari Jawa Tengah dan penulis sendiri dari Jakarta (Jawa Barat). Acara tersebut diadakan di Stadion Kanjuruhan Malang Jatim.

Berikut beberapa kesepakatan mengenai Standardisasi Kriteria Penilaian Kontes Kambing Etawa, yang disepakati pada acara saresehat terebut.
Telah disepakati terdapat 11 kriteria penilaian, dimana pada setiap kriteria diuraikan dan dijelaskan sebagai berikut :

  1. Postur : tinggi, panjang, besar, padat seimbang, tampak depan / belakang sama besar (ideal).
  2. Bentuk kepala : besar, pendek, cembung, setengah lingkaran dengan variasi mulut nyetem.
  3. Telinga : panjang, melipat,  lebar,  lurus, tidak berbongkol, lentur, tidak bergelombang/keriting dengan kelipatan luar dan dalam simetris
  4. Pola warna : keserasian dari 2 atau 3 warna dalam tubuh kambing yang mempunyai daya nilai seni.
  5. Rewos/Jibrak : bulu belakang yang  bersih, panjang, lebat,  bergelombang menjuntai ke bawah.
  6. Bulu/Rambut : bulu yang bersih, mengkilat, lebat/tebal merata di seluruh badan
  7. Leher/Gelambir : panjang, besar, padat, berisi, dengan Gelambir lebar membentuk variasi yang baik (serasi).
  8. Tanduk : besar, kokoh, pipih, tidak menancap, dan dengan variasi melingkar ke samping mengarah ke depan.
  9. Ekor : ekor yang berbongkol tebal, panjang, berdiri tegak dengan variasi bulu yang lebat
  10. Kaki : bentuk kaki yang kokoh, besar, serasi, tidak X atau O sebagai penyangga yang kuat
  11. Testis /Ambing : testis besar, sedang, dengan variasi bentuk W (tidak sanglir) / ambing besar, lentur dengan variasi punting yang sama.

Demikianlah 11 kriteria yang disepakati dalam saresehan peternak Kambing PE di Jatim. Pembobotan nilai sudah dilakukan, namun masih dikoreksi untuk disempurnakan. Agar tidak terjadi salah faham dalam penafsiran poin-point pada kriteria tersebut di atas sebaiknya diilustrasikan dengan gambar dua atau tiga dimensi dari sketser atau kartunis, hal ini untuk menghindari promosi terselubung (tendensius) atau bahkan mendiskreditkan kambing tertentu apabila diilustrasikan dengan menggunakan foto/gambar hidup kambing kontest yang ada saat ini …… (BERSAMBUNG)