Jagung

Sumber : Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur – Situs Resmi

http://www.disnak-jatim.go.id : 6 August, 2009

 

Tanaman jagung memiliki nilai ekonomis yang tinggi, bukan saja dari hasil buahnya. Hasil ikutannya pun memiliki nilai ekonomis antara lain sebagai bahan bakar, keperluan industri kertas termasuk kebutuhan pakan ternak. Meski hamparan tanaman jagung dapat kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia, namun ketersediaan jagung tidaklah berlangsung sepanjang tahun.

Pemanfaatan tanaman jagung, pemanfaatan hasil ikutan tanaman jagung berupa batang dan daun yang masih muda, dikenal sebagai jerami jagung dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak sudah banyak dilakukan petani, namun belum seluruhnya optimal pemanfaatannya. Selain diberikan pada ternak sebagai hijauan segar, jerami jagung juga dapat diberikan sebagai hijauan pakan ternak yang mengalami proses pengolahan teknologi pakan dalam bentuk hay dan silase.

Seiring berkembangnya daerah-daerah sentra tanaman jagung yang berguna untuk memenuhi kebutuhan industry pakan ternak, tidak menutup kemungkinan juga dapat dikembangkan menjadi kawasan daerah potensi petani penghasilan olahan hijauan hasil ikutan tanaman jagung berupa silase dan hay akan memberikan nilai tambah padapendapatan keluarga petani.

  (more…)


 

Dear Pemirsa Blog Yth.

Gambar-gambar di atas adalah salah satu koleksi pejantan kambing etawa super milik kami yang diberi nama “Gading Prabu”.

Gading Prabu, adalah lurik Sumar Tua yang kami peroleh dari Boyolali.

Selamat menikmati, salam EFI.


Dear Pemirsa Blog Yth.

Selamat Tahun Baru 2014.

Semoga Anda semua, sehat walafiat dan sukses selalu.

Gambar-gambar di atas adalah koleksi pejantan kambing etawa super milik kami yang diberi nama “Gajah Kulon”.

Gajah Kulon adalah anaknya Bagong Kliwon (Putune Basuki).

Selamat menikmati, salam EFI.


Dear Pemirsa Blog Yth,

Kambing Peranakan Etawa begitu popular di Tanah Jawa atau di Indonesia.

Menurut sejarah kambing ini asal muasalnya dikembang biakkan di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah. Dalam rangka melestarikan, menjaga  dan mengenang sejarah ini, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pertanian, memutuskan perubahan nama Kambing Peranakan Etawa ini menjadi Kambing Kaligesing.

Berikut adalah kutipan Keputusan Menteri dimaksud :

MENTERI PERTANIAN

REPUBLIK INDONESIA

 

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN

NOMOR 2591/Kpts/PD.400/7/2010

TENTANG

PENETAPAN GALUR KAMBING KALIGESING

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTANIAN,

(more…)


Banyak pengunjung yang masih bertanya asal-usul kambing etawa, banyak pula versi yang bercerita tentang hal ini. Berikut adalah salah satunya, yaitu  sebuah narasi yang saya kutip dari Wikipedia.org

Kambing Etawa didatangkan dari India yang disebut kambing Jamnapari. Badannya besar, tinggi gumba yang jantan 90 sentimeter hingga 127 sentimeter dan yang betina hanya mencapai 92 sentimeter. Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kilogram, sedangkan betina hanya mencapai 63 kilogram. Telinganya panjang dan terkulai ke bawah. Dahi dan hidungnya cembung. Baik jantan maupun betina bertanduk pendek. Kambing jenis ini mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari. Keturunan silangan (hibrida) kambing Etawa dengan kambing lokal dikenal sebagai sebagai kambing “Peranakan Etawa” atau “PE”. Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers